Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi. Tampilkan semua postingan

24/11/19

Eksplorasi Masjid

MASJID LANGGAR TINGGI, JAKARTA BARAT




Siang itu terasa sangat panas. Sudah beberapa hari ini belum turun hujan. Kakiku mulai melemah menapaki sepanjang jalan Pekojan Jakarta Barat. Rumah-rumah kumuh di sepanjang bantaran kali Angke terlihat ramai dengan barisan jemuran baju di depan rumah. Tak etis terlihat tapi siapa yang mau peduli. Semua sibuk memikirkan jatah nasi hari ini agar perut tidak menyanyi keroncong. Sengatan matahari membuat mataku makin menyipit mencari-cari sosok bangunan masjid. Tapi tanda-tanda itu tak terlihat.

23/09/19

Eksplorasi Masjid

MASJID JAWA BANGKOK



Pagi ini aku bertekad untuk bisa mengunjungi sebuah masjid di jalan Soi Charoen Rat 1 Yaek 9 Sathorn, Bangkok. Ini adalah hari terakhir kami di Bangkok sebelum akhirnya kami kembali ke tanah air setelah menjelajah Vietnam-Phnom Pehn- Kamboja-Thailand. Awalnya aku bimbang antara ingin pergi ke Chatuchak atau ke masjid Jawa. Kami belum membeli souvenir apa pun di Bangkok ini. Endang minta di temani untuk belanja souvenir dan sejak sebelum tiba di Bangkok aku berjanji akan mengantarkan Endang dan Trisni ke pasar Chatuchack. Tapi karena Trisni sedang dirundung kesedihan mendengar kabar ibunya sakit lagi di tanah air, akhirnya Trisni tidak ikut mencari souvenir. Aku sangat memaklumi. AKu pikir raga Trisni masih di sini tapi pikirannya sudah tidak karuan memikirkan kondisi ibunya di Kediri. Sepanjang malam kemarin, kami mengaji dan zikir-an di hotel. Aku melihat Trisni menangis diam-diam. Tak ada yang dapat kami lakukan selain berdoa dan bersabar.

19/09/19

Eksplorasi Masjid

MASJID PINK, MALAYSIA



Perjalanan ngebolang kali ini aku ditemani oleh anak lanangku, Fatur. Memasuki hari ke tiga kami menyempatkan diri untuk mengunjungi mesjid pink yang ada di Putrajaya, Malaysia sebelum malamnya nanti kami kembali ke tanah air.

Pagi-pagi setelah sarapan di hotel, kami menyeberang jalan menuju stasiun KL Sentral. Hotel tempat kami menginap memang sangat strategis sekali. Letaknya tepat di seberang KL Sentral sehingga memudahkan kami untuk menuju ke berbagai tempat wisata dan bandara KLIA. Kami naik komuter ke stasiun Pasar Seni (Central Market). Dari stasiun Pasar Seni kami berjalan menuju terminal Pudu Raya yang letaknya tidak begitu jauh dari kawasan Pasar Seni.

Kami tiba di terminal Pudu Raya. Suara mesin bis, klakson dan teriakan para kenek dan supir bercampur aduk jadi satu. Pandanganku melihat ke sekeliling terminal. Ada banyak bis dengan berbagai jurusan di terminal Pudu Raya meskipun terminal ini seperti terminal bayangan. Jadi satu bis datang, menunggu sekitar 15-30 menit kemudian langsung jalan. Aku pun tidak melihat terjadinya penumpukan bis di terminal. Waktu keberangkatan dan ketibaan sepertinya benar-benar diperhitungkan.

Aku mencari-cari bis Nadi Putra 500, bis yang akan mengantarkan kami ke terminal Putrajaya. Tapi aku tidak menemukannya.
“Excuse me sir,” tanyaku pada salah seorang kenek yang sedang berdiri di sisi salah satu bis. Rupanya suaraku kalah dengan kebisingan yang ada di sekitar. Kuualangi lagi sapaku sambil memperkeras volumenya. Sekarang tubuh gempal bapak kenek menghadapku. Dipandanginya aku tanpa berkata apa-apa. Kaosnya yang berwarna putih sangat kontras dengan warna kulitnya yang hitam legam.
“Sir, where is the bus to Putrajaya?” tanyaku.
“Where to go?” Bapak kenek malah balik bertanya padaku. Aku terdiam. Aku lihat Fatur nyengir sambil pura-pura melihat ke arah lain.
“Pink mosque,” jawabku singkat.
“Indonesian?” tanyanya lagi.
“Yes. We are Indonesian. Please tell me the bus to Putrajaya,” Aku menoleh. Suara laki-laki. Fatur yang menjawab pertanyaan bapak kenek itu.
“Ok. Over there,” katanya sambil mengangkat tangan dan menunjuk ke arah pemberhentian bis yang berada di sisi utara terminal.
“Thank you, sir,” jawabku berbarengan dengan Fatur.
“Yeah. Be careful,” katanya sambil tersenyum.


Bis Nadi Putra 500 menuju terminal Putrajaya telah berangkat 5 menit yang lalu. Jadi kami harus menunggu sekitar 25 menit lagi untuk keberangkatan bis berikutnya.
Tidak banyak penumpang yang naik bis Nadi Putra ini. Ada 4 orang India, sepertinya satu keluarga yang terdiri dari bapak, ibu dan 2 anaknya. 2 orang pemuda yang entah berasal dari mana duduk di bangku tepat di depanku. Sebelum naik ke atas bis, kenek telah meminta ongkos bis seharga RM 3,80.

Sesampainya di terminal Putrajaya kami melanjutkan perjalanan naik bis Nadi Putra yang lain yang melayani rute keliling hampir semua tempat wisata dan tempat-tempat penting lainnya di Putrajaya. Ada beberapa rute bis. Kami naik bis Nadi Putra 502 dengan tujuan Masjid Pink atau Masjid Putra. Kami diharuskan membeli kartu seharga RM 5 yang bisa di top up sesuai kebutuhan. Tarif ke Masjid Pink adalah RM 1,5. Jadi aku membayar RM 15 untuk kartu dan isinya. Satu kartu bisa digunakan untuk dua orang.

Selama perjalanan menuju Masjid Pink, kami disuguhkan dengan pemandangan deretan komplek perumahan pegawai negara yang tertata rapi. Pohon-pohon rindang dan taman di sepanjang jalan menambah indah pemandangan. Sangat asri dan bersih. Sejuk. Tak banyak kendaraan dan orang lalu lalang. Sepi tapi tidak menyeramkan. Aku merasakan keteraturan di sini.

Kami tiba di Masjid Pink. Pak supir mengatakan tempat kami menunggu bis nantinya ketika akan kembali lagi ke terminal Putrajaya. Dia mengingatkan pula untuk tidak terlalu sore karena kuatir bis yang akan membawa kami ke terminal Pudu Raya akan semakin lama tibanya karena kemacetan yang mungkin terjadi di Kuala lumpur. Kami mengangguk tanda mengerti.

Di hadapan kami berdiri sebuah masjid yang warna bangunannya bernuansa pink. Masjid yang dibangun pada tahun 1997 ini memiliki lahan seluas 1,37 hektar yang bisa menampung kurang lebih 15.000 jamaah. Pada awalnya masjid ini bernama Perdana Menteri Malaysia Pertama, Tuanku Abdul Rahman Putra Al-Haj. Kemudian berubah nama menjadi Masjid Putra dan terkenal pula dengan nama Masjid Pink. Perpaduan antara desain geometris dan kaligrafi terlihat pada kubahnya. Sangat indah. Konon katanya menara masjidnya terinspirasi dari desain masjid Sheikh Omar yang berada di Baghdad.

Aku berjalan memasuki masjid. Ruang tempat shalat bagi wanita yang berada di sebelah kiri bangunan masjid dipadati oleh para jamaah dari berbagai daerah. Karpet lebar nan cantik terhampar menutupi lantai. Lampu-lampu berjajar membentuk dua putaran yang menempel pada rangka bundar terlihat anggun tergantung pada langit-langit masjid. Tempat imam berada sejajar dengan pintu masuk bagi ichwan. Kipas angin berukuran besar berbaris rapi di bagian depan di sisi kiri dan kanan. Pintu-pintu kaca terlihat menyebar di 3 sisi masjid. Pilar-pilar segiempat bernuansa bata merah muda berdiri kokoh makin memperlihatkan keanggunan masjid.

Seusai shalat, aku berjalan mengelilingi masjid. Angin sepoi-sepoi membentuk garis-garis riakan halus pada air danau. Danau yang diberi nama Danau Putrajaya yang berada di sisi barat masjid ikut andil dalam menyejukkan udara disekitarnya dan membuatku nyaman berada di sini berlama-lama. Pohon-pohon hias di pot menambah indah pemandangan.

Masjid pink yang merupakan ikon dari kota Putrajaya ini semakin ramai didatangi para pengunjung. Pengunjung yang datang ke masjid ini berasal dari berbagai negara. Mereka bukan hanya yang beragama Islam saja tapi banyak juga wisatawan dan turis yang berbeda agama. Bagi pengunjung yang memakai celana pendek dan berpakaian minim diharuskan memakai kain dan selendang penutup kepala. Dengan sigap para petugas akan membantu mereka meminjamkan kain dan selendang penutup kepala.

Hari semakin sore. Kami keluar dari masjid dan menuju tempat pemberhentian bis Nadi Putra. Kami diam tak berkata-kata. Mencoba untuk meresapi kembali apa yang telah kami rasakan di dalam Masjid Pink. Bis melaju menjauh meninggalkan masjid. Aku menoleh sekali lagi. Dari kejauhan, Masjid Pink seakan mengapung di atas danau. Menyertakan rasa syukurku kepada Ilahi yang telah mengijinkan kami berada di sini.




10/09/19

Eksplorasi Masjid

MASJID AN NEAKMAH KAMBOJA


Pagi itu aku tiba di pool bis di Kamboja. Kerumunan penjemput sudah menyemut di depan pintu luar pool bis. Aku masih menunggu Trisni dan Endang yang sedang ke toilet ketika kulihat seorang laki-laki berkulit hitam memakai kemeja putih mengangkat selembar kertas hvs putih bertuliskan VETTY. Aku terkejut. Seumur-umur baru kali ini aku disambut seperti ini. Tapi aku tidak kenal dengan orang itu. Kok ya bisa-bisanya dia menuliskan namaku dan akan menjemputku.
Siapa dia?

03/09/19

Eksplorasi Masjid

MASJID CUT MUTIA, JAKARTA



Kereta api commuter line yang aku naiki yang berangkat dari stasiun Bogor tiba di stasiun Gondangdia pada pukul 09.45 WIB. Aku mendekati petugas stasiun kereta api dan bertanya lokasi tepatnya hotel Sofyan, Cikini. Berdasarkan keterangan panitia pelatihan yang akan aku ikuti pagi ini hotel tersebut berjarak kurang lebih sekitar 150 meter dari stasiun Gondangdia. “Mbak nya keluar dari stasiun ini belok kanan, jalan lurus saja. Sampai ujung jalan belok kiri, jalan sebentar nanti ada tulisan masjid Cut Meutia, nah mbak nya masuk aja ke pekarangan masjid. Hotelnya ada di seberang masjid.” Aku menuruti petunjuk yang diberikan oleh petugas. Ketika tiba di area masjid, aku sedikit terpana. Selayang pandang, bangunannya tidak tampak seperti mesjid. Akupun tidak melihat kubah atau menara layaknya masjid-masjid pada umumnya yang ada di Indonesia. Rasa penasaranku terhadap masjid ini terjawab pada sore harinya setelah selesai pelatihan di hotel Sofyan. Sebelum kembali lagi ke stasiun Bogor, aku menyempatkan diri untuk singgah ke masjid ini.